Ibadah Israel dibenci Tuhan (Amos
5:21-27)
(Aseng Yulias Samongilailai)
1. Konteks Luas
Dalam kanon Ibrani, Kitab Amos termasuk ke
dalam kitab Nebiim; menurut terjemahan Yunani (LXX) dan terjemahan Indonesia,
kitab ini termasuk kitab nabi-nabi. Kitab ini diberi nama Amos sesuai dengan
nama nabi yang berperan di dalam kitab ini yaitu Amos. Amos adalah nabi pertama
yang nubuatnya masih tersimpan dalam bentuk kitab saat ini[1],
sebelum Amos ada nabi-nabi di Israel seperti Nabi Natan dan Nabi Elia tetapi
nubuat mereka tidak dituliskan menjadi kitab seperti kitab Amos ini.
2.
Konteks Terbatas
Amos
adalah nabi yang berasal dari Tekoa sekitar ±10 km dari Yerusalem, ia merupakan nabi berkewarganegaraan Yehuda
yang bernubuat di Kerajaan Israel Utara. Nama Amos berarti “beban” dan nama
Tekoa barangkali berarti “membunyikan terompet”.[2]
Pekerjaan nabi Amos ialah sebagai seorang peternak, petani dan pemungut buah
ara. Ada penafsir yang menganggap bahwa Amos bukanlah petani biasa, tetapi
seorang yang mengawasi peternakan domba yang diperlukan untuk Bait Suci di
Yerusalem.[3]
Amos merupakan nabi individual yang tidak terikat oleh organisasi atau lembaga
kerajaan dan kedudukan (Lih. Barnabas Ludji, Pengantar PL 2, hal 15-16).
Nabi Amos bernubuat pada masa pemerintahan Raja
Uzia di Yehuda (787-736 sM), dan Raja Yerobeam II di Israel Utara (787-747 sM).
Nubuat-nubuatnya ia sampaikan di Israel Utara dengan sangat keras. Pada masa
itu situasi kerajaan sedang mengalami kemakmuran yang luar biasa baik. Sehingga
masa kemakmuran itu juga bisa disebut sebagai masa kejayaan atau masa keemasan.
Kemakmuran yang dirasakan meliputi hampir di segala sektor atau bidang
kehidupan. Dalam bidang politik mereka mengalami kemajuan, mereka bisa
memperluas wilayahnya bahkan mencapai tapal batas yang dulu pernah dicapai oleh
Raja Salomo dengan kekuatan militer yang memadai. Dalam bidang ekonomi mereka
berhasil mengembangkan lahan pertanian sehingga hasil panen yang mereka
dapatkan memuaskan. Keberhasilan mereka tentunya berdampak positif, bisa
memajukan perekonomian untuk kemakmuran rakyat. Akan tetapi yang terjadi ialah
justru sebaliknya, kemakmuran tidak dirasakan secara merata, mereka yang
berkuasa dan yang kuat/kaya menguasai kekayaan sebagian bangsa itu. Penguasaan
kekayaan oleh para penguasa dan elit bangsa itu dilakukan dengan cara yang
curang dan tidak adil.[4]
Para penguasa dan koncro-koncronya bekerja sama menyalahgunakan kekuasan,
bertindak seenak perut demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Amos sendiri
juga menjumpai ketidakadilan yang marak dalam masyarakat; perdagangan
internasional yang luas untuk keuntungan orang kaya; praktek-praktek bisnis
yang penuh tipuan terhadap orang-orang miskin yang tak berdaya, dan juga
merampas tanah mereka.[5]
Itulah kemakmuran versi “Israel Utara”.
Perlu juga dilihat bahwa dalam kehidupan keagamaan,
mereka juga berhasil menyemarakkan ritual ibadat mereka, mereka mendesain ibadat mereka sesempurna mungkin dengan
membawa kurban-kurban tambun gemuk-gemuk dalam jumlah yang banyak, sehingga
dalam Bait Allah sangat melimpah kurban-kurban. Juga dengan nyanyian-nyanyian
mereka yang semarak indah dan bisa menarik hati (mengeksploitasi perasaan)[6]
karena diiringi musik-musik yang ramai. Mereka berpikir bahwa inilah ibadat
yang benar-benar sempurna, tidak ada kekurangan lagi. Sudah sepatutnya Allah
mengampuni dan menghapuskan dosa-dosa mereka dalam kehidupan mereka. Artiannya
ibadat mereka adalah ibadat yang dimaksudkan sebagai sogokan kepada Allah. Pandangan
bangsa Israel Utara yang seperti ini merupakan bukti nyata bahwa mereka telah
terpengaruh oleh bangsa Kanaan dan bangsa-bangsa Timur Tengah lainnya, dalam
hal ibadat. Dalam ibadat Kanaan orang mencoba mendapat berkat (yaitu kesuburan)
dari dewa dengan jalan menyenangkan hati dewa itu. Orang Kanaan mengajak dewa
itu bergaul dengan manusia, dengan perantaraan banyak gerakan, pakaian yang
mencolok mata, musik dan persembahan-persembahan yang semerbak baunya.[7]
Karena itu, apabila negeri mereka dilanda oleh bencana alam, penyakit, perang,
kelaparan dsb, hal utama yang akan mereka perbaiki ialah pelaksanaan upacara
agama. Begitulah pemahaman yang dianut oleh bangsa Kanaan yang cenderung ditiru
oleh bangsa Israel Utara.
3.
Struktur Sosial Masyarakat
Keadaan sosial yang stabil dan baik ternyata
tidak dirasakan oleh semua rakyat. Mereka para penguasa yang kaya dan kuat
menjadi semakin kuat dan mereka yang miskin tak berdaya menjadi semakin miskin
dan bahkan benar-benar tidak berdaya, karena ketidakadilan dan ketidakbenaran
yang kerap sekali terjadi dimana-mana.
4.
Tafsiran
Nabi Amos mewakili Allah (Yahwe) dalam mengecam
ibadat yang Allah tidak suka pada saat itu.[8]
Sehingga dalam teks ini pada bagian awal ditemui kata ganti orang pertama yaitu
Aku, yang kemudian pada bagian akhir yaitu
ayat 27 ditemui pernyataan "
firman TUHAN, yang nama-Nya Allah semesta alam.
Kecaman itu terlebih mengenai ritual dan
tujuan ibadah mereka yang bermaksud untuk menyogok Allah, agar kebobrokan
mereka diampuni dan dihapuskan. Kecaman yang keras dan tegas itu membuat iman
Amazia mengusirnya dari Bait Allah di Utara yaitu Betel (7:12-13). Beberapa
ahli[9]
mengusulkan bahwa teks pasal 5:21-27 ini merupakan lanjutan dari ayat yang
sebelumnya yaitu ayat 18-20, yang oleh LAI diberi tema “Hari TUHAN”. Ayat 21-23
menceritakan mengenai bagaimana Allah dengan perantaraan nabi Amos membenci
ibadah orang Israel, dari perayaan, perkumpulan raya, korban-korban sampai pada
nyanyian-nyanyian.
Ayat 21-23
Ayat
21. Ayat ini diawali dengan Aku (Allah) membenci, Aku menghinakan dan kemudian
Aku tidak senang kepada. Maksudnya adalah Allah tidak suka kalau perayaan dan
perkumpulan-perkumpulan raya orang Israel itu dilaksanakan sama persis seperti
orang Kanaan menyembah dewanya. Sebab Allah sangat mengingikan perayaan dan
perkumpulan raya mereka sebagai suatu wadah pengucapan syukur mereka atas karya
Allah dalam kehidupan mereka. Ibadah orang Israel adalah ibadah yang didasarkan
kepada karya penyelamatan Allah. Sementara ibadah orang Kanaan adalah ibadah
yang egoistis (dewa melayani manusia), sehingga perayaan dilakukan untuk
menyenangkan hati dewa agar dewa tersebut mengabulkan apa saja yang mereka
inginkan. Allah membenci dan menghinakan (menolak), dalam bahasa Ibrani
digunakan kata maas yang artinya menolak (reject). Boland menyebutkan
bahwa dalam perayaan diadakan perkumpulan-perkumpulan raya, hal ini paralel
dengan tiga perayaan tahunan mereka seperti dalam Kel. 23:15-18; 34:22-25; Ul.
16:10-16) sebagaimana pada setiap upacara (hari sabat, perayaan bulan muda,
dll.; bnd. 8:5; Hos 2:11; Neh 10:33) untuk panen hasil (menuai) dan kebaktian. Allah
membenci ibadah orang Israel yaitu lewat perayaan dan perkumpulan raya disebabkan
oleh karena Allah adalah Allah yang kudus dan adil.[10] Justru
yang Allah tuntut bukanlah perayaan dan perkumpulan raya yang sebatas hanya
ritual belaka, melainkan bagaimana lewat perayaan dan perkumpulan raya itu umat
Israel dapat benar-benar menjadi umat yang benar dan yang menegakkan keadilan;
oleh sebab Allah adalah adil.
Ayat
22. Ayat ini berisikan tentang korban-korban orang Israel yang Allah tidak
sukai dan senangi. Ayat ini diawali dengan kata sungguh, yang berarti bahwa Allah benar-benar tidak suka. Boland
mengelompokan korban itu atas korban persembahan yang terdiri dari korban-korban bakaran (tanda
pemujaan, bnd. Kel.29:28) dan korban-korban sajian (tanda pemuliaan). Kemudian
ada korban persekutuan yakni korban
keselamatan (kemungkinan sebagai penutup) dalam bentuk korban sembelihan. Dalam
ayat ini, setiap kata yang menyebutkan korban-korban Israel ditambahkan kata –mu, hal itu menunjukkan bahwa bukan
Allah yang menganggap korban-korban mereka penting sebab Allah menolak untuk
“menerima” setiap korban mereka. Yang menganggap itu penting adalah
orang Israel sendiri, bisa dibilang sebagai
bayaran (bnd. Hakim yang dapat dibayar). Orang Israel berpikir bahwa dengan
mereka memberikan korban-korban yang gemuk-gemuk maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka. Sementara perilaku mereka,
ketaatan mereka kepada Allah dan hukum-Nya tidak segemuk dan setambun
korban-korban yang orang Israel bawa, mereka berlaku tidak adil lebih-lebih
para penguasa dan elite bangsa saat itu.
Ayat 23. Ayat ini diawali dengan seruan Jauhkanlah, kemudian pada bagian akhir
ayat terdapat kata tidak mau Aku
dengar. Setelah Allah menolak cara
beribadah dan korban mereka, pada ayat ini yang ditolak oleh Allah adalah pujian/nyanyian-nyanyian
mereka.[11]
Maksudnya adalah Allah tidak suka apabila nyanyian-nyanyian itu keras berbunyi
hanya pada kalangan para penguasa dan elite bangsa. Sementara dari kalangan
orang lemah dan miskin yang keras terdengar bukanlah nyanyian-nyanyian “kebahagiaan”
seperti halnya dengan para penguasa dan elite bangsa, melainkan ratapan dan
tangisan atas ketidakadilan yang mereka rasakan. Padahal bila dilihat dasar
dari ibadah orang Israel adalah karya penyelamatan Allah. Karya penyelamatan Allah
bukan hanya pada sekelompok umat tertentu, melainkan semua umat. (bnd. Orang
Israel yang keluar dari Mesir).
Ayat 24. Ayat ini diawali dengan kata Tetapi biarlah, kata ini menunjuk kepada dua kata penting dalam ayat ini
yaitu keadilan dan kebenaran. Boland membahasakan kalimat ini dengan mengganti
kata tetapi biarlah dengan kata akan; jadi kira-kira bunyinya adalah keadilan
(keadilan ilahi yang berasal dari atas) akan menggulung seperti air bah (yakni
akan menggulung segala ketidakadilan di atas bumi). Dalam ayat ini kata yang
dipakai untuk menunjukkan keadilan ialah mispat.
Secara rinci mispat erat kaitannya
dengan pengadilan di pintu gerbang dan artinya adalah proses pengadilan itu
merupakan suatu ketegasan mana yang benar sehingga mampu menjaga hubungan sosial,
dan khususnya mampu memberikan perlindungan bagi kaum lemah dan miskin.
Sementara untuk kebenaran dipakai kata sedaqa.
Sedaqa adalah kebenaran yang mestinya
siapapun itu memenuhi/melakukannya dengan respons mereka yang langsung melawan kekusutan/ketidakbenaran.
Hilangnya keadilan dan kebenaran merupakan persolan. Amos mengutuk ibadah
Israel karena ritual seperti itu tidak menyiratkan keadilan dan kebenaran.[12]
Cara beribadah orang Kanaan, mengizinkan orang secara pribadi berbuat immoral
dan tercela. Harper lebih mempertegas bahwa Allah tidak hanya menginginkan
keramaian suara ibadah, bukan juga liturgi, tetapi keadilan. Amos menentang
kesalehan orang-orang yang rajin turut-serta dalam upacara ibadah itu (lebih-lebih
orang-orang kaya), tetapi yang dalam praktek hidupnya sehari-hari tidak
menghiraukan Allah dan hukum-Nya.[13]
Amos juga mengulangi bahwa yang Allah kehendaki ialah kebenaran dan keadilan
harus ditegakkan di bumi di antara umat-Nya. Keadilan dan kebenaran haruslah
terus-menerus dijalankan layaknya seperti dalam sungai yang selalu mengalir. Ayat
ini dapat ditafsirkan dengan memperingatkan kepada 5:14-15 dan dengan menunjuk
kepada Yes. 1:10-17.[14]
Ayat 25. Dalam ayat ini Allah lewat nabi Amos
mengemukakan suatu contoh dari sejarah, dalam bentuk pertanyaan. Dan jawaban
atas pertanyaan itu tentunya tidak;
yaitu Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku korban sembelihan dan korban
sajian, selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai orang Israel? Mengenai
hal ini, ada ahli-ahli yang berpendapat bahwa selama di padang gurun orang
Israel telah melakukan semacam kegiatan
ibadat dan upacara-upacara meskipun dalam bentuk yang sederhana,
sehingga pendapat Amos dilihat berat sebelah.[15]
Sementara Boland menyimpulkan bahwa sedikit tidaknya yang penting dalam agama
Israel bukanlah ibadat, melainkan penyataan kehendak Allah dan dengar-dengaran
kepada suara-Nya (Yer. 7:23); demikianlah menurutnya mengerti maksud dari
penentangan Amos yang keras itu. Dikarenakan ia berbicara kepada orang-orang yang
membuat ibadah itu menjadi pusat agama mereka dan sementara itu tidak
mengindahkan suara Allah yang dengan perantaraan para nabi mengundang mereka
untuk menaati kehendak-Nya. Sementara James Luther Mays berpendapat bahwa ayat
ini merupakan pertanyaan penolakan korban. Terlihat sehubungan
dengan ayat 24, ini menunjukkan bahwa pada tahun-tahun awal Israel menanggapi
Allah dengan ketaatan, dan menghasilkan keadilan dan kebenaran, bukan
menyajikan korban.
Ayat 26-27. Apabila ayat ini dicermati,
tampaknya ayat ini merupakan ayat yang
isinya berupa hukuman Allah atas bangsa Israel. Selain menyiratkan penghukuman
Allah atas orang Israel, secara tersirat yang mau ditentang adalah penyembahan
berhala-berhala tertentu yang rupa-rupanya terjadi di Israel dalam zaman Amos,
yang mana hal itu juga ditentang pada zaman perjalanan di padang gurun. Ayat
26-27 ini mengandung pemberitahuan hukuman; bahwa akan tiba saatnya di mana
orang Israel akan mengangkut patung dewa-dewa berhalanya, dan mereka sendiri
akan dibuang ke dalam pembuangan oleh Allah. Dalam ayat 27 ada ungkapan jatuh ke seberang Damsyik. Hal ini dapat
dikaitkan dengan kerajaan Asyur yang pada tahun 722 sM menaklukan Israel dan
mengangkut penduduknya sebagai tawanan. Menurut para penafsir yang lain, mereka
memahaminya sebagai lokasi yang jauh
sekali atau ke ujung bumi. Mereka telah
menolak untuk mematuhi Allah sebagai Raja dan Tuhan, sehingga mereka akan
diserahkan kepada musuh-musuh mereka.
Makna Teologi
Di atas telah diuraikan bahwa pada saat itu
orang Israel (Utara) sedang dalam masa keemasan. Mereka makmur dalam setiap
aspek tetapi dalam hal ibadah, mereka sangat jauh dari yang Allah kehendaki.
Teks ini bertujuan untuk memperingatkan orang Israel bahwa Allah tidak senang
dengan ibadah yang mereka laksanakan. Ibadah yang “pantas” atau ibadah yang
Allah kehendaki adalah ibadah yang tidak hanya ritual belaka, melainkan ibadah
yang disertai dengan perilaku dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam hal
penegakan keadilan dan kebenaran. Sebab ibadah orang Israel adalah ibadah yang
didasarkan pada karya penyelamatan Allah. Karya penyelamatan Allah tidaklah
ditujukan hanya bagi segelintir orang melainkan secara keseluruhan. Oleh karena
itu, ibadah dalam pengertian sebenarnya ialah menyatunya ibadah yang bersifat
ritual dengan tingkah laku umat setiap harinya.[16]
Yang Tuhan tuntut dari ibadah adalah keadilan, kebaikan, kebenaran, integritas,
belas kasihan dan lain-lain.[17]
Penerapan
Di dalam kehidupan, secara sadar atau tidak sadar.
Sering kita memiliki motivasi yang salah dengan ibadah kepada Tuhan. Kita
berpikir bahwa dengan kita memberikan persembahan, melakukan ritual ibadah yang
“wah” Allah akan senang. Justru pemikiran yang seperti itu hendaknya jangan ada
dibenak kita masing-masing, karena ibadah kepada Allah adalah ibadah yang juga
menuntut keadilan dan kebenaran. Melalui teks ini hendaklah ibadah kita tidak
hanya sebatas ritual belaka, tetapi juga harus diekspresikan lewat kehidupan
kita sehari-hari. Tegakkanlah keadilan dan kebenaran dalam kehidupan kita,
terlebih kita warga negara Indonesia, di mana saat ini situasi politik kita
sedang hangat. Biarlah kiranya kita menjadi para penegak keadilan dan kebenaran
agar ibadah yang kita lakukan tidak dibenci oleh Allah.
DAFTAR PUSTAKA
Barth, Chr. Theologia
Perjanjian Lama 4. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Bergant, Dianne & Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama.
Yogyakarta: Penerbit
Kanisius,
2006.
Blommendaaal, J. Pengantar
Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013.
Darmaputera, Eka. Mencari
Allah: Pemahaman Kitab Amos Tentang Mencintai Keadilan dan
Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Harper, William Rainey. The
International Critical Commentary: Amos And Hosea Harper.
Edinburgh: T.
& T. Clark, 1936.
Ludji, Barnabas. Pemahaman
Dasar Perjanjian Lama 2. Bandung: BMI, 2009.
_____________. Tafsiran
Beberapa Teks Perjanjian Lama. Bandung: BMI, 2009.
Luther Mays, James. The Old
Testament Library: Amos. Philadephia: The Westminster Press,
1969.
Mulder. D.C. Pembimbing Ke
Dalam Perdjandjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1963.
Stuart,
Douglas. Word Biblical Commentary:
Hosea-Jonah. Texas: Word Books Inc, 1987.
[1]
B.J Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), hal. 4.
[2]
Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir
Alkitab Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), 655. Bnd.
Eka Darmaputera, Mencari Allah: Pemahaman
Kitab Amos tentang Mencintai Keadilan dan Kebenaran, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2012), hal. 5.
[3]
B.J Boland, op.cit., hal. 3. Bnd.
Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar
Perjanjian Lama 2, (Bandung: BMI, 2009), hal. 50.
[4]
Barnabas Ludji, op.cit., hal 52.
[5]
Dianne Bergant dan Robert J. Karris, op.cit.,
hal. 655-656.
[6]
Barnabas Ludji, op.cit., hal. 53.
[7]
B.J.Boland, op.cit., hal. 66-67.
[8]
William Rainey Harper, The International
Critical Commentary: Amos and Hosea, (Edinburgh: T. & T. Clark, 1936),
hal. 133.
[9]
Seperti Douglas Stuart dan William Rainey Harper.
[10]
Boland, op.cit., hal. 67.
[11]
Douglas Stuart, Word Biblical Commentary:
Hosea-Jonah, (Texas: Word Books Pub, 1987), hal. 354.
[12]
James Luther Mays, The Old Testament Library:
Amos A Commentary, (Philadelphia: The Westminster Press, 1969), hal. 108-109.
[13]
B.J. Boland, op.cit., hal. 68
[14]
Ibid.
[15]
Ibid. Hal. 69.
[16]
Barnabas Ludji, op.cit., hal. 57.
[17]
Barnabas Ludji, Tafsiran Beberapa Teks PL,
(Bandung: BMI, 2009), hal. 113.
i665i0wepdh857 black dildos,horse dildo,masturbators,dildos,cheap sex toys,vibrators,sex chair,huge dildos,finger vibrator z208i8msfri293
BalasHapus