Rabu, 16 September 2015

Ibadah Israel dibenci Tuhan (Amos 5:21-27)

Ibadah Israel dibenci Tuhan (Amos 5:21-27)
(Aseng Yulias Samongilailai)
1.     Konteks Luas
Dalam kanon Ibrani, Kitab Amos termasuk ke dalam kitab Nebiim; menurut terjemahan Yunani (LXX) dan terjemahan Indonesia, kitab ini termasuk kitab nabi-nabi. Kitab ini diberi nama Amos sesuai dengan nama nabi yang berperan di dalam kitab ini yaitu Amos. Amos adalah nabi pertama yang nubuatnya masih tersimpan dalam bentuk kitab saat ini[1], sebelum Amos ada nabi-nabi di Israel seperti Nabi Natan dan Nabi Elia tetapi nubuat mereka tidak dituliskan menjadi kitab seperti kitab Amos ini.
2.      Konteks Terbatas
 Amos adalah nabi yang berasal dari Tekoa sekitar ±10 km dari Yerusalem, ia merupakan nabi berkewarganegaraan Yehuda yang bernubuat di Kerajaan Israel Utara. Nama Amos berarti “beban” dan nama Tekoa barangkali berarti “membunyikan terompet”.[2] Pekerjaan nabi Amos ialah sebagai seorang peternak, petani dan pemungut buah ara. Ada penafsir yang menganggap bahwa Amos bukanlah petani biasa, tetapi seorang yang mengawasi peternakan domba yang diperlukan untuk Bait Suci di Yerusalem.[3] Amos merupakan nabi individual yang tidak terikat oleh organisasi atau lembaga kerajaan dan kedudukan (Lih. Barnabas Ludji, Pengantar PL 2, hal 15-16).  
Nabi Amos bernubuat pada masa pemerintahan Raja Uzia di Yehuda (787-736 sM), dan Raja Yerobeam II di Israel Utara (787-747 sM). Nubuat-nubuatnya ia sampaikan di Israel Utara dengan sangat keras. Pada masa itu situasi kerajaan sedang mengalami kemakmuran yang luar biasa baik. Sehingga masa kemakmuran itu juga bisa disebut sebagai masa kejayaan atau masa keemasan. Kemakmuran yang dirasakan meliputi hampir di segala sektor atau bidang kehidupan. Dalam bidang politik mereka mengalami kemajuan, mereka bisa memperluas wilayahnya bahkan mencapai tapal batas yang dulu pernah dicapai oleh Raja Salomo dengan kekuatan militer yang memadai. Dalam bidang ekonomi mereka berhasil mengembangkan lahan pertanian sehingga hasil panen yang mereka dapatkan memuaskan. Keberhasilan mereka tentunya berdampak positif, bisa memajukan perekonomian untuk kemakmuran rakyat. Akan tetapi yang terjadi ialah justru sebaliknya, kemakmuran tidak dirasakan secara merata, mereka yang berkuasa dan yang kuat/kaya menguasai kekayaan sebagian bangsa itu. Penguasaan kekayaan oleh para penguasa dan elit bangsa itu dilakukan dengan cara yang curang dan tidak adil.[4] Para penguasa dan koncro-koncronya bekerja sama menyalahgunakan kekuasan, bertindak seenak perut demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Amos sendiri juga menjumpai ketidakadilan yang marak dalam masyarakat; perdagangan internasional yang luas untuk keuntungan orang kaya; praktek-praktek bisnis yang penuh tipuan terhadap orang-orang miskin yang tak berdaya, dan juga merampas tanah mereka.[5] Itulah kemakmuran versi “Israel Utara”.     
Perlu juga dilihat bahwa dalam kehidupan keagamaan, mereka juga berhasil menyemarakkan ritual ibadat mereka, mereka mendesain ibadat mereka sesempurna mungkin dengan membawa kurban-kurban tambun gemuk-gemuk dalam jumlah yang banyak, sehingga dalam Bait Allah sangat melimpah kurban-kurban. Juga dengan nyanyian-nyanyian mereka yang semarak indah dan bisa menarik hati (mengeksploitasi perasaan)[6] karena diiringi musik-musik yang ramai. Mereka berpikir bahwa inilah ibadat yang benar-benar sempurna, tidak ada kekurangan lagi. Sudah sepatutnya Allah mengampuni dan menghapuskan dosa-dosa mereka dalam kehidupan mereka. Artiannya ibadat mereka adalah ibadat yang dimaksudkan sebagai sogokan kepada Allah. Pandangan bangsa Israel Utara yang seperti ini merupakan bukti nyata bahwa mereka telah terpengaruh oleh bangsa Kanaan dan bangsa-bangsa Timur Tengah lainnya, dalam hal ibadat. Dalam ibadat Kanaan orang mencoba mendapat berkat (yaitu kesuburan) dari dewa dengan jalan menyenangkan hati dewa itu. Orang Kanaan mengajak dewa itu bergaul dengan manusia, dengan perantaraan banyak gerakan, pakaian yang mencolok mata, musik dan persembahan-persembahan yang semerbak baunya.[7] Karena itu, apabila negeri mereka dilanda oleh bencana alam, penyakit, perang, kelaparan dsb, hal utama yang akan mereka perbaiki ialah pelaksanaan upacara agama. Begitulah pemahaman yang dianut oleh bangsa Kanaan yang cenderung ditiru oleh bangsa Israel Utara.   
3.      Struktur Sosial Masyarakat
Keadaan sosial yang stabil dan baik ternyata tidak dirasakan oleh semua rakyat. Mereka para penguasa yang kaya dan kuat menjadi semakin kuat dan mereka yang miskin tak berdaya menjadi semakin miskin dan bahkan benar-benar tidak berdaya, karena ketidakadilan dan ketidakbenaran yang kerap sekali terjadi dimana-mana.
4.      Tafsiran
Nabi Amos mewakili Allah (Yahwe) dalam mengecam ibadat yang Allah tidak suka pada saat itu.[8] Sehingga dalam teks ini pada bagian awal ditemui kata ganti orang pertama yaitu Aku, yang kemudian pada bagian akhir yaitu ayat 27 ditemui pernyataan " firman TUHAN, yang nama-Nya Allah semesta alam. Kecaman itu terlebih mengenai ritual dan tujuan ibadah mereka yang bermaksud untuk menyogok Allah, agar kebobrokan mereka diampuni dan dihapuskan. Kecaman yang keras dan tegas itu membuat iman Amazia mengusirnya dari Bait Allah di Utara yaitu Betel (7:12-13). Beberapa ahli[9] mengusulkan bahwa teks pasal 5:21-27 ini merupakan lanjutan dari ayat yang sebelumnya yaitu ayat 18-20, yang oleh LAI diberi tema “Hari TUHAN”. Ayat 21-23 menceritakan mengenai bagaimana Allah dengan perantaraan nabi Amos membenci ibadah orang Israel, dari perayaan, perkumpulan raya, korban-korban sampai pada nyanyian-nyanyian.
Ayat 21-23
Ayat 21. Ayat ini diawali dengan Aku (Allah) membenci, Aku menghinakan dan kemudian Aku tidak senang kepada. Maksudnya adalah Allah tidak suka kalau perayaan dan perkumpulan-perkumpulan raya orang Israel itu dilaksanakan sama persis seperti orang Kanaan menyembah dewanya. Sebab Allah sangat mengingikan perayaan dan perkumpulan raya mereka sebagai suatu wadah pengucapan syukur mereka atas karya Allah dalam kehidupan mereka. Ibadah orang Israel adalah ibadah yang didasarkan kepada karya penyelamatan Allah. Sementara ibadah orang Kanaan adalah ibadah yang egoistis (dewa melayani manusia), sehingga perayaan dilakukan untuk menyenangkan hati dewa agar dewa tersebut mengabulkan apa saja yang mereka inginkan. Allah membenci dan menghinakan (menolak), dalam bahasa Ibrani digunakan kata maas yang artinya menolak (reject). Boland menyebutkan bahwa dalam perayaan diadakan perkumpulan-perkumpulan raya, hal ini paralel dengan tiga perayaan tahunan mereka seperti dalam Kel. 23:15-18; 34:22-25; Ul. 16:10-16) sebagaimana pada setiap upacara (hari sabat, perayaan bulan muda, dll.; bnd. 8:5; Hos 2:11; Neh 10:33) untuk panen hasil (menuai) dan kebaktian. Allah membenci ibadah orang Israel yaitu lewat perayaan dan perkumpulan raya disebabkan oleh karena Allah adalah Allah yang kudus dan adil.[10] Justru yang Allah tuntut bukanlah perayaan dan perkumpulan raya yang sebatas hanya ritual belaka, melainkan bagaimana lewat perayaan dan perkumpulan raya itu umat Israel dapat benar-benar menjadi umat yang benar dan yang menegakkan keadilan; oleh sebab Allah adalah adil.
Ayat 22. Ayat ini berisikan tentang korban-korban orang Israel yang Allah tidak sukai dan senangi. Ayat ini diawali dengan kata sungguh, yang berarti bahwa Allah benar-benar tidak suka. Boland mengelompokan korban itu atas korban persembahan yang terdiri dari korban-korban bakaran (tanda pemujaan, bnd. Kel.29:28) dan korban-korban sajian (tanda pemuliaan). Kemudian ada korban persekutuan yakni korban keselamatan (kemungkinan sebagai penutup) dalam bentuk korban sembelihan. Dalam ayat ini, setiap kata yang menyebutkan korban-korban Israel ditambahkan kata –mu, hal itu menunjukkan bahwa bukan Allah yang menganggap korban-korban mereka penting sebab Allah menolak untuk “menerima” setiap korban mereka. Yang menganggap itu penting adalah orang Israel sendiri, bisa dibilang sebagai bayaran (bnd. Hakim yang dapat dibayar). Orang Israel berpikir bahwa dengan mereka memberikan korban-korban yang gemuk-gemuk maka Allah akan mengampuni  dosa-dosa mereka. Sementara perilaku mereka, ketaatan mereka kepada Allah dan hukum-Nya tidak segemuk dan setambun korban-korban yang orang Israel bawa, mereka berlaku tidak adil lebih-lebih para penguasa dan elite bangsa saat itu.
Ayat 23. Ayat ini diawali dengan seruan Jauhkanlah, kemudian pada bagian akhir ayat terdapat kata tidak mau Aku dengar. Setelah Allah menolak cara beribadah dan korban mereka, pada ayat ini yang ditolak oleh Allah adalah pujian/nyanyian-nyanyian mereka.[11] Maksudnya adalah Allah tidak suka apabila nyanyian-nyanyian itu keras berbunyi hanya pada kalangan para penguasa dan elite bangsa. Sementara dari kalangan orang lemah dan miskin yang keras terdengar bukanlah nyanyian-nyanyian “kebahagiaan” seperti halnya dengan para penguasa dan elite bangsa, melainkan ratapan dan tangisan atas ketidakadilan yang mereka rasakan. Padahal bila dilihat dasar dari ibadah orang Israel adalah karya penyelamatan Allah. Karya penyelamatan Allah bukan hanya pada sekelompok umat tertentu, melainkan semua umat. (bnd. Orang Israel yang keluar dari Mesir).
Ayat 24. Ayat ini diawali dengan kata Tetapi biarlah, kata ini menunjuk kepada dua kata penting dalam ayat ini yaitu keadilan dan kebenaran. Boland membahasakan kalimat ini dengan mengganti kata tetapi biarlah dengan kata akan; jadi kira-kira bunyinya adalah keadilan (keadilan ilahi yang berasal dari atas) akan menggulung seperti air bah (yakni akan menggulung segala ketidakadilan di atas bumi). Dalam ayat ini kata yang dipakai untuk menunjukkan keadilan ialah mispat. Secara rinci mispat erat kaitannya dengan pengadilan di pintu gerbang dan artinya adalah proses pengadilan itu merupakan suatu ketegasan mana yang benar sehingga mampu menjaga hubungan sosial, dan khususnya mampu memberikan perlindungan bagi kaum lemah dan miskin. Sementara untuk kebenaran dipakai kata sedaqa. Sedaqa adalah kebenaran yang mestinya siapapun itu memenuhi/melakukannya dengan respons mereka yang langsung melawan kekusutan/ketidakbenaran. Hilangnya keadilan dan kebenaran merupakan persolan. Amos mengutuk ibadah Israel karena ritual seperti itu tidak menyiratkan keadilan dan kebenaran.[12] Cara beribadah orang Kanaan, mengizinkan orang secara pribadi berbuat immoral dan tercela. Harper lebih mempertegas bahwa Allah tidak hanya menginginkan keramaian suara ibadah, bukan juga liturgi, tetapi keadilan. Amos menentang kesalehan orang-orang yang rajin turut-serta dalam upacara ibadah itu (lebih-lebih orang-orang kaya), tetapi yang dalam praktek hidupnya sehari-hari tidak menghiraukan Allah dan hukum-Nya.[13] Amos juga mengulangi bahwa yang Allah kehendaki ialah kebenaran dan keadilan harus ditegakkan di bumi di antara umat-Nya. Keadilan dan kebenaran haruslah terus-menerus dijalankan layaknya seperti dalam sungai yang selalu mengalir. Ayat ini dapat ditafsirkan dengan memperingatkan kepada 5:14-15 dan dengan menunjuk kepada Yes. 1:10-17.[14]
Ayat 25. Dalam ayat ini Allah lewat nabi Amos mengemukakan suatu contoh dari sejarah, dalam bentuk pertanyaan. Dan jawaban atas pertanyaan itu tentunya tidak; yaitu Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku korban sembelihan dan korban sajian, selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai orang Israel? Mengenai hal ini, ada ahli-ahli yang berpendapat bahwa selama di padang gurun orang Israel telah melakukan semacam kegiatan  ibadat dan upacara-upacara meskipun dalam bentuk yang sederhana, sehingga pendapat Amos dilihat berat sebelah.[15] Sementara Boland menyimpulkan bahwa sedikit tidaknya yang penting dalam agama Israel bukanlah ibadat, melainkan penyataan kehendak Allah dan dengar-dengaran kepada suara-Nya (Yer. 7:23); demikianlah menurutnya mengerti maksud dari penentangan Amos yang keras itu. Dikarenakan ia berbicara kepada orang-orang yang membuat ibadah itu menjadi pusat agama mereka dan sementara itu tidak mengindahkan suara Allah yang dengan perantaraan para nabi mengundang mereka untuk menaati kehendak-Nya. Sementara James Luther Mays berpendapat bahwa ayat ini merupakan pertanyaan penolakan korban. Terlihat sehubungan dengan ayat 24, ini menunjukkan bahwa pada tahun-tahun awal Israel menanggapi Allah dengan ketaatan, dan menghasilkan keadilan dan kebenaran, bukan menyajikan korban.
Ayat 26-27. Apabila ayat ini dicermati, tampaknya ayat ini  merupakan ayat yang isinya berupa hukuman Allah atas bangsa Israel. Selain menyiratkan penghukuman Allah atas orang Israel, secara tersirat yang mau ditentang adalah penyembahan berhala-berhala tertentu yang rupa-rupanya terjadi di Israel dalam zaman Amos, yang mana hal itu juga ditentang pada zaman perjalanan di padang gurun. Ayat 26-27 ini mengandung pemberitahuan hukuman; bahwa akan tiba saatnya di mana orang Israel akan mengangkut patung dewa-dewa berhalanya, dan mereka sendiri akan dibuang ke dalam pembuangan oleh Allah. Dalam ayat 27 ada ungkapan jatuh ke seberang Damsyik. Hal ini dapat dikaitkan dengan kerajaan Asyur yang pada tahun 722 sM menaklukan Israel dan mengangkut penduduknya sebagai tawanan. Menurut para penafsir yang lain, mereka memahaminya sebagai lokasi yang jauh sekali atau ke ujung bumi. Mereka telah menolak untuk mematuhi Allah sebagai Raja dan Tuhan, sehingga mereka akan diserahkan kepada musuh-musuh mereka.
Makna Teologi
Di atas telah diuraikan bahwa pada saat itu orang Israel (Utara) sedang dalam masa keemasan. Mereka makmur dalam setiap aspek tetapi dalam hal ibadah, mereka sangat jauh dari yang Allah kehendaki. Teks ini bertujuan untuk memperingatkan orang Israel bahwa Allah tidak senang dengan ibadah yang mereka laksanakan. Ibadah yang “pantas” atau ibadah yang Allah kehendaki adalah ibadah yang tidak hanya ritual belaka, melainkan ibadah yang disertai dengan perilaku dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam hal penegakan keadilan dan kebenaran. Sebab ibadah orang Israel adalah ibadah yang didasarkan pada karya penyelamatan Allah. Karya penyelamatan Allah tidaklah ditujukan hanya bagi segelintir orang melainkan secara keseluruhan. Oleh karena itu, ibadah dalam pengertian sebenarnya ialah menyatunya ibadah yang bersifat ritual dengan tingkah laku umat setiap harinya.[16] Yang Tuhan tuntut dari ibadah adalah keadilan, kebaikan, kebenaran, integritas, belas kasihan dan lain-lain.[17]
Penerapan
Di dalam kehidupan, secara sadar atau tidak sadar. Sering kita memiliki motivasi yang salah dengan ibadah kepada Tuhan. Kita berpikir bahwa dengan kita memberikan persembahan, melakukan ritual ibadah yang “wah” Allah akan senang. Justru pemikiran yang seperti itu hendaknya jangan ada dibenak kita masing-masing, karena ibadah kepada Allah adalah ibadah yang juga menuntut keadilan dan kebenaran. Melalui teks ini hendaklah ibadah kita tidak hanya sebatas ritual belaka, tetapi juga harus diekspresikan lewat kehidupan kita sehari-hari. Tegakkanlah keadilan dan kebenaran dalam kehidupan kita, terlebih kita warga negara Indonesia, di mana saat ini situasi politik kita sedang hangat. Biarlah kiranya kita menjadi para penegak keadilan dan kebenaran agar ibadah yang kita lakukan tidak dibenci oleh Allah.   
DAFTAR PUSTAKA
Barth, Chr. Theologia Perjanjian Lama 4. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Bergant, Dianne & Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius, 2006.
Blommendaaal, J. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013.
Darmaputera, Eka. Mencari Allah: Pemahaman Kitab Amos Tentang Mencintai Keadilan dan
Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Harper, William Rainey. The International Critical Commentary: Amos And Hosea Harper.
            Edinburgh: T. & T. Clark, 1936.
Ludji, Barnabas. Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2. Bandung: BMI, 2009.
_____________. Tafsiran Beberapa Teks Perjanjian Lama. Bandung: BMI, 2009.
Luther Mays, James. The Old Testament Library: Amos. Philadephia: The Westminster Press,
1969.
Mulder. D.C. Pembimbing Ke Dalam Perdjandjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1963.
Stuart, Douglas. Word Biblical Commentary: Hosea-Jonah. Texas: Word Books Inc, 1987.



[1] B.J Boland, Tafsiran Alkitab: Kitab Amos, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997), hal. 4.
[2] Dianne Bergant dan Robert J. Karris, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), 655. Bnd. Eka Darmaputera, Mencari Allah: Pemahaman Kitab Amos tentang Mencintai Keadilan dan Kebenaran, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), hal. 5.  
[3] B.J Boland, op.cit., hal. 3. Bnd. Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2, (Bandung: BMI, 2009), hal. 50.
[4] Barnabas Ludji, op.cit., hal 52.
[5] Dianne Bergant dan Robert J. Karris, op.cit., hal. 655-656.
[6] Barnabas Ludji, op.cit., hal. 53.
[7] B.J.Boland, op.cit., hal. 66-67.
[8] William Rainey Harper, The International Critical Commentary: Amos and Hosea, (Edinburgh: T. & T. Clark, 1936), hal. 133.
[9] Seperti Douglas Stuart dan William Rainey Harper.
[10] Boland, op.cit., hal. 67.
[11] Douglas Stuart, Word Biblical Commentary: Hosea-Jonah, (Texas: Word Books Pub, 1987), hal. 354.
[12] James Luther Mays, The Old Testament Library: Amos A Commentary, (Philadelphia: The Westminster Press, 1969), hal. 108-109.
[13] B.J. Boland, op.cit., hal.  68 
[14] Ibid.
[15] Ibid. Hal. 69.
[16] Barnabas Ludji, op.cit., hal. 57.
[17] Barnabas Ludji, Tafsiran Beberapa Teks PL, (Bandung: BMI, 2009), hal. 113.

1 komentar: